Senin, 03 November 2008

Stress Oksidatif Memicu Penuaan Dini


Penuaan merupakan proses yang kompleks, yang mempengaruhi setiap molekul, sel, dan organ tubuh. Kulit merupakan organ tubuh yang paling mudah merefleksikan akibat dari proses penuaan tersebut. Seiring bertambahnya usia dan semakin banyak tubuh kita terpapar oleh lingkungan tempat kita hidup, maka semakin banyak proses biokimiawi yang menyebabkan perubahan pada kulit kita, selain tentu saja dipengaruhi oleh faktor genetik.

Berbagai studi mengemukakan bahwa ada 2 tipe penuaan, yang pertama adalah penuaan yang disebabkan oleh gen yang diwariskan secara keturunan, yang disebut internal aging. Dan tipe yang kedua yang disebut eksternal aging, yaitu yang disebabkan oleh faktor lingkungan, misalnya paparan sinar matahari dan gaya hidup. Pada dasarnya kedua tipe ini saling mempengaruhi satu sama lain dan keduanya saling berperan pada mekanisme proses penuaan. Internal Aging yang banyak dipengaruhi oleh usia dan genetik secara cepat atau lambat akan dialami oleh semua orang tanpa kecuali. Sedangkan eksternal aging dapat ditelusuri dari adanya pengaruh lingkungan (polusi, rokok, dan kosmetik), penyakit dan diet yang tidak seimbang. Faktor luar ini tentu dapat kita kendalikan dengan berbagai upaya agar proses penuaan dapat lebih lambat terjadi. Keseluruhan faktor ini
dalam tubuh kita memicu suatu proses biokimiawi yang menghasilkan radikal bebas, penyebab penuaan nomor satu . Radikal bebas secara normal akan diproduksi oleh tubuh sebagai akibat dari proses oksidasi, namun apabila radikal bebas ini diproduksi berlebihan dalam tubuh,
akan menimbulkan suatu stres oksidatif yang diketahui akan menyebabkan kerusakan pada sel dan menjadi suatu penyakit pada jaringan dan organ-organ tubuh.
Apa itu Stres Oksidatif ?
Stres oksidatif adalah suatu keadaan dimana jumlah molekul radikal bebas yang dihasilkan dari metabolisme tubuh, jumlahnya melebihi kapasitas tubuh untuk menetralisirnya. Akibat dari hal ini adalah intensitas proses oksidasi sel-sel tubuh yang normal menjadi semakin tinggi dan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak. Keadaan stress oksidatif membawa pada kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan hingga ke organ tubuh. Kondisi sel-sel yang rusak inilah yang akhirnya bermanifestasi menjadi penyakit dan proses penuaan sel menjadi lebih cepat (premature aging). Stres oksidatif ini dapat terjadi karena dipicu oleh beberapa kondisi, namun pada dasarnya stres oksidatif ini terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara molekul radikal bebas dan penetralisirnya (antioksidan). Penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya antioksidan atau kelebihan produksi radikal bebas oleh tubuh. Berbagai studi dan penelitian dunia kedokteran telah membuktikan bahwa lebih dari 50 macam penyakit yang ada diduga kuat berkaitan dengan aktivitas radikal bebas, diantaranya yaitu stoke, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, asma, parkinson hingga AIDS. Pada kulit kita, radikal bebas yang diproduksi berlebih pada stres oksidatif akan merusak lapisan lemak pada membran sel kulit, akibat kulit menjadi kehilangan ketegangan dan elastisitasnya dan menyebabkan keriput (wrinkle).

Apakah Stres Oksidatif Dapat Dicegah ?
Pada hakikatnya, segala sesuatu dalam hidup dan alam selalu diciptakan secara seimbang, begitupun dalam tubuh manusia. Tubuh kita memiliki caranya sendiri dalam menanggulangi bahaya dari radikal bebas ini melalui rangkaian enzim antioksidan yaitu superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta senyawa non enzim, yaitu protein kecil glutation. Inilah yang disebut antioksidan endogen karena diproduksi dalam tubuh kita sendiri. Namun lingkungan tempat kita hidup sehari-hari, makanan yang kita konsumsi, berbagai macam polusi yang jumlahnya semakin meningkat dan gaya hidup penuh tekanan menyebabkan paparan tubuh terhadap radikal bebas menjadi berlebih dan tubuh tidak mampu menetralisirnya. Karena itu lah kerja dari antioksidan endogen perlu dibantu oleh asupan antioksidan dari luar (eksogen) agar sel-sel tubuh tidak cepat mengalami penuaan sebelum waktunya. Manusia modern mutlak memerlukan tambahan antioksidan ini, dikarenakan modernisasi selain telah mempermudah cara hidup disisi lain juga telah menyumbangkan lebih banyak bahaya terhadap kesehatan tubuh manusia. Polusi udara, ritme kerja yang cepat, tidak sempat olahraga, makanan cepat saji dan berbagai pengawet dihampir semua makanan instan, semuanya menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besar manusia modern.
Antioksidan eksogen dapat kita peroleh dari konsumsi makanan kaya vitamin E dan C. Belakangan ini para ahli telah meneliti berbagai senyawa fitokimia yang dapat bermanfaat sebagai alternatif antioksidan selain vitamin E dan C, yang disebut senyawa Fenolik. Senyawa fenolik mudah ditemukan pada berbagai tumbuh-tumbuhan hijau, rempah dan buah-buahan. Senyawa lainnya yang bersifat antioksidan adalah karotenoid, yang dapat kita peroleh dari konsumsi sayur dan buah-buahan berwarna terang seperti tomat dan wortel.

Kuncinya adalah Gaya Hidup Sehat !
Penuaan sel-sel tubuh dapat kita perlambat dengan memiliki kebiasaan hidup yang sehat. Kebiasaan ini mencakup diet yang sehat dan seimbang kaya antioksidan, olahraga yang teratur dan konsisten, tidak merokok, istirahat yang cukup, lindungi kulit kita dari sinar matahari dan yang terpenting adalah hindari stress dengan hidup seimbang dan kebiasaan berpikir positif dalam memandang setiap hal. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan di Amerika menyebutkan bahwa perubahan gaya hidup yang komprehensif, menyangkut diet yang lebih baik dan aktivitas fisik yang lebih teratur tidak hanya menyehatkan fisik namun juga penyebabkan perubahan yang dramatis pada tingkat genetik. Dengan kata lain, genetik yang diwariskan kepada kita bukan merupakan harga mati. Karena dengan gaya hidup yang sehat kita dapat mewariskan gen yang lebih baik dan lebih sehat kepada keturunan kita.

Read More...