Selasa, 08 April 2008

Gizi Buruk : PR yang tidak pernah selesai

Saya teringat dengan salah satu pasien kecil saya yang berumur 1 tahun. Dia terbaring lemas di bangsal perawatan anak kelas 3. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibunya sesekali membantu bekerja sebagai tukang cuci. Tertera di papan kecil putih di depan tempat tidurnya : An.N, 1 th ; Diagnosa : TB + Marasmic-Kwashiorkor. Dengan kata lain, anak malang ini menderita penyakit Tuberkulosis disertai Gizi Buruk kategori Kekurangan kalori dan protein (Marasmus Kwashiorkor).

Si kecil ini bukan satu-satunya pasien dengan gizi buruk, ada sekitar 8 anak dengan diagnosa serupa yang disertai penyakit infeksi lain. Kondisi ini sungguh sangat menyedihkan. Ditengah-tengah modernisasi dan semakin giatnya pembangunan, kasus-kasus gizi buruk yang terus bermunculan di Indonesia, menunjukkan bahwa pembangunan tidak disertai dengan pembangunan sumber daya manusia.

Akibat gizi buruk, anak-anak usia sekolah berpotensi kehilangan nilai hingga 0,7 poin saat sekolah dan memulai sekolah 7 bulan lebih tua dibandingkan dengan anak lain tanpa gizi buruk. Di masa depan, anak-anak dengan gizi buruk itu dikawatirkan bukannya menjadi sumber daya tapi malah menjadi beban karena potensi kecerdasan yang hilang akibat gizi buruk.

Menurut laporan UNICEF tahun 2006, jumlah anak balita gizi buruk di Indonesia mejadi 2,3 juta jiwa. Ini berarti naik sekitar 500.000 jiwa dibandingkan dengan data tahun 2005 sejumlah 1,8 juta jiwa. Bayangkan !

Fenomena gizi buruk ini adalah akumulasi dari berbagai faktor yaitu kemiskinan, kondisi lingkungan, buruknya pelayanan kesehatan dan kurangnya pemahaman tentang gizi yang baik. Namun diantaran semuanya, penyebab paling krusial adalah kemiskinan. Tidak mungkin masalah gizi buruk ini dapat diatasi apabila tidak ada upaya peningkatan kondisi perekonomian dalam tingkat rumah tangga.

Apabila tidak ada penanganan yang lebih serius dan progresif dari pemerintah dan anak-anak tetap bergizi buruk, bisa jadi hal ini merupakan bentuk pengabaian dan pelanggaran hak asasi manusia. Karena negara berkewajiban memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Selamat memperingati Hari Pangan Sedunia (16 Oktober).

dr.Ruri Diah Pamela

0 comments: